Pada tanggal 7 September 2015, BSN (Badan Standarisasi Nasional) melakukan diskusi bersama dengan Gama Multi Group di demo room Gama Multi, Gamatechno building lantai dasar Yogyakarta. Pertemuan ini merupakan kelanjutan dari kerjasama UGM dengan BSN terkait standarisasi produk-produk hasil inkubasi UGM pada tanggal 13 Agustus 2015 lalu.
Tujuan umum dari pertemuan tersebut antara lain terutama untuk mendiskusikan penghiliran produk riset kaitannya dengan pendampingan oleh BSN dalam pengembangan berbagai SNI dan beberapa isu yang memerlukan kerja sama antara BSN-UGM dalam menghadapi MEA (Masyarakat Ekonomi ASEAN) 2015, dan standarisasi kompetensi dan sertifikasi internasional. Sedangkan tujuan khususnya adalah BSN ingin melihat secara visual produk-produk yang telah dihilirisasi oleh Gama Multi Group, terutama Gama-CHA dan produk-produk herbal tradiosional juga produk Smartcity dan e-ticketing yang telah diterapkan di TransJakarta, Trans Yogya dan Trans Solo.
Terkait dengan hal ini, Gama Multi Group, khususnya Swayasa Prakarsa, dipercaya menjadi bagian dari tim yang akan menyusun SNI untuk produk-produk hasil riset UGM yang telah dipasarkan maupun yang akan datang guna mendukung kerjasama UGM dengan BSN dalam standarisasi produk hasil riset. Penyusunan SNI tersebut akan dilakukan oleh komite teknis yang merupakan para pakar dari perwakilan stakeholder di bidang terkait yang di-SNI-kan. SNI dapat disusun dengan mengacu pada standar internasional yang sudah ada atau disusun sendiri oleh komite teknis BSN jika belum ada.
Dari pertemuan tersebut dikatakan bahwa Gama-CHA, salah satu produk unggulan Swayasa Prakarsa, sangat potesial untuk dipasarkan secara internasional, sehingga untuk mendukung hal tersebut perlu dilengkapi dokumen-dokumen penunjang, salah satunya SNI. Selain, Gama-CHA, akan dilanjutkan dengan produk-produk hasil inkubasi UGM yang lain untuk distandarisasikan.
Dalam kunjungannya ke Gama Multi Group, Bambang Prasetya, Kepala Badan Standardisasi Nasional, mengatakan bahwa dalam menghadapi MEA 2015 Indonesia harus mempersiapkan diri mulai dari sekarang, agar mampu memanfaatkan peluang-peluang yang ada dengan menciptakan inovasi-inovasi yang luar biasa baik dan berguna bagi masyarakat Indonesia. Dalam hal ini tentunya memerlukan kesiapan laboratorium. Caranya adalah dengan melakukan perbaikan laboratorium agar laboratorium tersebut mampu mendukung laboratorium atau LSPro yang lain dalam mem-back up wilayah Yogyakarta khususnya Laboratorium yang dimiliki oleh Gama Multi.
Bambang Prasetya sangat antusias untuk mengetahui produk-produk yang dimiliki Gama Multi Group. Terlihat dari banyaknya pertanyaan-pertanyaan yang didiskusikan ketika Direktur Utama Gama Multi Group, M. Afrizal Hernandar, melakukan presentasi perusahaan Gama Multi Group. Afrizal Hernandar menjelaskan bahwa misi dari Gama Multi Group juga akan membuat standard ukot/obat-obat tradisional yang baik sesuai dengan aturan Kemenkes RI, karena kini banyak obat-obat herbal di pasaran yang tidak sesuai dengan standard dan produksinya tidak mengikuti prosedur-prosedur yang telah ditetapkan Kemenkes RI. Selain Bone Graft Gama-CHA, produk Gama Multi lainnya seperti VP Shunt, Ceraspons, GT Smartcity dan Aino e-ticketing juga akan dibuat SNI-nya.
BSN berharap kedepannya, produk-produk yang telah dikeluarkan maupun dikembangkan oleh Gama Multi Group ini dapat dijadikan role model yang bekerja sama oleh Badan Standardisasi Nasional. Untuk mempersiapkan standar khususnya Standar Nasional Indonesia (SNI), BSN akan membuat sub komite khusus yang didalamnya terdapat stakeholder terkait dan beberapa anggota komite teknis salah satunya dari Gama Multi dalam mengembangkan SNI baru. Dan untuk membendung produk-produk yang tidak berstandard, pemerintah melalui beberapa kementerian/lembaga akan berkoordinasi untuk melarang produk-produk yang tidak sesuai dengan standar, baik standar wajib maupun sukarela. Sehingga, dapat mendorong LSPro dan laboratorium di Indonesia untuk lebih produktif dan berdaya saing. (indah)
Berita Lainnya :



