Pada tanggal 4 November 2015, Gama Multi Group dan Swayasa Prakarsa menerima perwakilan dari Kemenristekdikti RI dan University of Oxford, yang merupakan tim ahli pendamping Kemenristekdikti terkait hilirisasi inovasi di Indonesia, untuk melakukan diskusi bersama mengenai hilirisasi hasil riset universitas. Tujuan dari kunjungan tersebut adalah untuk melihat komersialisasi inovasi yang dilakukan oleh Gama Multi Group selama ini hingga mampu menghilirisasi hasil-hasil riset yang ada di UGM menuju industri.
Para perwakilan melakukan diskusi bersama Direktur Utama Swayasa Prakarsa, Slamet Sudjarwo, Direktur Swayasa, Bondan Ardiningtyas dan Corporate Public Relations Gama Multi Group, Indah Subadra. Dalam kegiatan diskusi tersebut para perwakilan sangat antusias dengan memberikan banyak pertanyaan mengenai Gama Multi Group, Swayasa serta produk-produk yang telah berhasil dihilirisasi, khususnya bagaimana cara Gama Multi Group mengatur dan mengarahkan proses hilirisasi yang telah ada.

Direksi Swayasa menjelaskan bahwa UGM banyak sekali mempunyai hasil riset, dari berbagai penelitian itu kemudian dipilih hasil riset yang terbaik. UGM dan Gama Multi Group akan menilai penjelasan dari para peneliti mengenai riset-riset yang telah dilakukan. Tahap berikutnya Gama Multi Group akan me-review apakah hasil riset tersebut potensial untuk dikembangkan dan akan diberikan ke unit bisnis yang sesuai dengan bidang hasil riset tersebut.
Salah satu produk yang telah berhasil dihilirisasi ke industri adalah Gama-CHA, yang merupakan bone graft pertama di Indonesia dan juga bone graft pertama di dunia yang identik dengan tulang manusia. Gama Multi Group memilih Swayasa Prakarsa untuk menjadi bagian dari unit inkubasi riset tersebut karena Swayasa merupakan subsidiary Gama Multi Group yang bergerak dalam bidang produksi alat kesehatan dan obat herbal. Swayasa akan terus berperan untuk menjembatani dan menginkubasi hasil penelitian di UGM agar dapat dimanfaatkan oleh masyarakat dan industri, dimulai dari industri obat herbal dan alat-alat kesehatan.
Dalam proses pengembangan hasil riset tersebut, inventor akan tetap digandeng oleh perusahaan inkubasi terkait quality control, karena inventor juga bertanggung jawab atas kualitas produk yang dikembangkan. Gama Multi akan mendampingi inventor selama proses inkubasi. Tentunya produk-produk yang telah dihasilkan ini akan terus dikawal oleh SDM yang professional dari Gama Multi Group.
Saat ini Swayasa Prakarsa telah menguatkan perannya sebagai incubation centre yang mendukung UGM dalam hilirisasi dan komersialisasi hasil riset dari fakultas di lingkungan UGM. Telah tercatat dari 9 hasil riset yang diinkubasi dalam tahun 2014, Swayasa telah berhasil meng-komersialisasi 1 produk dan 6 produk lainnya masih dalam proses mendapatkan ijin edar serta 2 produk sedang dalam proses inkubasi.(pinky)
Berita Lainnya :



